Postingan

# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

Gambar
​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak tersentuh kebijakan pemerintah.  Kita patut bersyukur atas janji kesejahteraan kendati selalu "jauh panggang dari api". Ketidakpedulian penguasa justru jadi bumbu penyedap paling otentik di meja makan rakyat jelata. ​Dan kekecewaan menggunung mendadak luruh bersama segelas es teh manis.  Siapa butuh anggaran pendidikan dan kesehatan yang mumpuni jika kita sudah punya label "sejahtera" di atas kertas?  Kita diajak merayakan pemangkasan hak-hak dasar demi satu piring harapan.  Bukankah sangat puitis melihat masa depan anak bangsa dikorbankan demi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang penuh kemegahan? ​Mari kita kunyah makanan ini dengan khidmat tanpa perlu banyak tanya.  Nikmatilah kemewahan sesaat ini selagi angka kemiskinan hanya jadi hiasan infografis di kantor kementerian.  Pemerintah sedang bekerja keras mencerdaskan b...

Aoleng! Saat Badan Jalan Raya Pasongsongan Berganti Jadi Pasar Tumpah

Gambar
Setiap hari Sabtu dan Selasa pagi, sebuah potret menyedihkan sekaligus menguji nyali tersaji di sepanjang jalan raya Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep.  Aoleng (pikiran jadi pusing)! Alih-alih jadi jalur transportasi yang aman dan lancar, fasilitas publik ini berubah menjadi panggung semrawut akibat fenomena "pasar tumpah".  Keberadaannya kini bukan lagi sekadar pusat perputaran ekonomi, melainkan sumber frustrasi, pemicu tingginya tensi emosi pengendara, hingga ancaman nyata bagi keselamatan nyawa. Ada tiga titik utama yang jadi pusat kesemrawutan ini.  Di Desa Pasongsongan, kemacetan parah rutin terjadi di dua lokasi, yakni di depan BRI Pasongsongan dan kawasan simpang tiga Pasar Pao.  Sedangkan di Desa Panaongan, pemandangan serupa terlihat jelas persis di depan Kantor Kecamatan Pasongsongan.  Tiga titik ini mendadak lumpuh setiap kali hari pasaran tiba. Ironisnya, kekacauan ini terjadi bukan karena ketiadaan fasilitas.  Pemerintah sebenarnya tel...

Mengurai Benang Kusut Pasar Tumpah Pasongsongan: Hak Jalan yang Terampas dan Pembiaran yang Akut

Gambar
Setiap hari Sabtu dan Selasa pagi, sebuah ritual menyedihkan sekaligus menguji nyali rutin terjadi di Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep.  Alih-alih jadi pusat perputaran ekonomi yang tertib dan menguntungkan semua pihak, kehadiran pasar tumpah di Desa Panaongan dan Desa Pasongsongan justru berubah menjadi momok yang mengerikan bagi pengguna jalan.  Keberadaannya kini sungguh menyedihkan dan memprihatinkan. Bayangkan saja, dalam satu jalur kecamatan, terdapat tiga titik kemacetan parah yang beroperasi hampir bersamaan.  Di Desa Pasongsongan, kemacetan mengular di dua titik utama: di depan BRI Pasongsongan dan di simpang tiga Pasar Pao.  Sementara di Desa Panaongan, pemandangan serupa bergeser ke depan Kantor Kecamatan Pasongsongan.  Tiga titik ini sukses mengubah jalan raya menjadi lautan egoisme seketika matahari terbit. Akar masalahnya sudah jadi rahasia umum, tapi seolah dibiarkan tanpa solusi konkret.  - Pertama, ulah sebagian pedagang yang berju...

Tanamkan Nasionalisme, SDN Padangdangan 2 Tekankan Pentingnya Kedisiplinan Sejak Dini

Gambar
PASONGSONGAN – Sekolah Dasar Negeri (SDN) Padangdangan 2, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep kembali melaksanakan kegiatan rutin upacara bendera dengan khidmat. Senin (18/5/2026).  Kegiatan yang diikuti seluruh siswa, guru, dan staf sekolah ini bertujuan menanamkan rasa nasionalisme serta membentuk karakter disiplin sejak dini. Bertindak sebagai Pembina Upacara, Zainuddin, S.Pd., memberikan motivasi dan arahan khusus kepada para peserta didik. "Disiplin bukan hanya soal datang tepat waktu, tapi bagaimana kita konsisten dalam belajar dan menghargai waktu yang ada. Disiplin adalah kunci utama dalam menuntut ilmu," ujar Zainuddin dalam arahannya. Lebih lanjut, Zainuddin juga mengingatkan para murid mengenai pentingnya mempersiapkan mental sebelum ke sekolah.  "Kesuksesan belajar sangat dipengaruhi oleh niat yang tertanam di dalam hati sejak dari rumah," selanya. Melalui momentum upacara ini, pihak SDN Padangdangan 2 berharap para siswa bisa mengimplementasikan n...

Upacara Bendera SDN Padangdangan 1: Pembina Tekankan Kesiapan Semester Genap dan Pembentukan Karakter Siswa

Gambar
PASONGSONGAN – Sekolah Dasar Negeri (SDN) Padangdangan 1, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep kembali melaksanakan kegiatan rutin upacara bendera dengan penuh khidmat. Senin (18/5/2026).  Kegiatan yang diikuti oleh seluruh siswa, guru, dan staf tenaga kependidikan ini berlangsung di halaman utama sekolah. Bertindak sebagai Pembina Upacara pada kesempatan kali ini adalah Indrayani Suci Lestari, S.Pd.   Dalam amanat singkatnya, ia memberikan motivasi sekaligus evaluasi penting demi kemajuan kualitas belajar mengajar di lingkungan SDN Padangdangan 1. Ada dua poin utama yang menjadi sorotan dalam amanat Pembina Upacara kali ini: 1. Kesiapan Menghadapi Semester 2 (Genap) Memasuki paruh kedua tahun ajaran, Indrayani menekankan pentingnya kesiapan mental dan fisik para siswa. Ia mengingatkan bahwa materi pelajaran di semester genap ini akan semakin menantang, terlebih bagi kelas tinggi yang akan menghadapi asesmen. "Semester dua ini adalah penentu kenaikan kelas. Saya berh...

Menakar Ego di Jalan Raya: Potret Menyedihkan Pasar Tumpah Pasongsongan

Gambar
Kecamatan Pasongsongan dikenal sebagai salah satu wilayah yang dinamis di Kabupaten Sumenep.  Tapi, setiap hari Sabtu dan Selasa, kedinamisan itu berubah menjadi momok yang menguji kesabaran.  Pasar tumpah yang digelar di Desa Panaongan dan Desa Pasongsongan kini kondisinya sungguh menyedihkan.  Alih-alih jadi pusat perputaran ekonomi yang tertib, keberadaan pasar ini justru menjelma menjadi titik rawan yang merenggut hak-hak para pengguna jalan. Skenarionya selalu sama setiap pekan: kemacetan mengular, klakson bersahutan, dan tensi emosi para pengendara meninggi.  Mengapa fasilitas publik yang krusial seperti jalan raya harus dikorbankan demi ego segelintir pihak? Ketika Badan Jalan Beralih Fungsi Akar masalah dari kacaunya kondisi ini adalah hilangnya fungsi utama jalan raya.  Seolah tanpa beban moral, sebagian pedagang berjualan "seenak dengkulnya" dengan menggelar lapak hingga memakan badan jalan.  Fenomena ini otomatis memicu efek domino. Ketika lapak ...

Tingkatkan Kedisiplinan, SDN Padangdangan 1 Tekankan Ketertiban Parkir Sepeda dan Persiapan Perpisahan Kelas VI

Gambar
PASONGSONGAN – Sekolah Dasar Negeri (SDN) Padangdangan 1, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep kembali melaksanakan kegiatan rutin upacara bendera dengan penuh khidmat. Senin (11/5/2026).  Kegiatan yang diikuti oleh seluruh siswa, guru, dan staf tata usaha ini jadi momentum penting untuk menyampaikan berbagai evaluasi dan agenda sekolah. Bertindak sebagai Pembina Upacara pada kesempatan kali ini adalah Ririn Rahmawati, S.Pd. Dalam amanat singkatnya, ia memberikan penekanan khusus mengenai pentingnya menjaga ketertiban di lingkungan sekolah, salah satunya terkait penataan parkir sepeda milik siswa. "Ketertiban dan keindahan sekolah adalah tanggung jawab kita bersama. Saya meminta kepada seluruh siswa yang membawa sepeda ke sekolah agar memarkirkannya dengan rapi di tempat yang telah disediakan. Jangan ada lagi sepeda yang diparkir sembarangan karena hal itu mengganggu kenyamanan dan estetika sekolah kita," tegas Ririn dalam arahannya. Persiapan Menuju Kelulusan Kelas VI S...

Memutar Ulang Waktu di Pasongsongan: Secangkir Kopi Nostalgia Bersama Aji Lahaji

Gambar
Pada medio Maret 2026 yang lalu membawa angin yang berbeda di kediaman saya di Pasongsongan, Sumenep.  Di pertengahan bulan itu, sebuah ketukan di pintu menjelma jadi mesin waktu yang melemparkan ingatan saya jauh ke belakang, tepatnya 28 tahun yang lalu.  Tamu yang datang bukanlah orang asing, melainkan Aji Lahaji—seorang kawan lama, musisi, dan kini seorang pendakwah—yang datang beranjangsana bersama seorang rekannya. Melihat sosoknya yang kini lebih sering menghabiskan waktu di Jakarta, ingatan saya langsung melayang ke tahun 1998.  Sebuah tahun yang riuh, penuh gejolak, dan menjadi saksi awal mula persahabatan kami di sebuah sudut ibu kota: Gang Siaga, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Gang Siaga 1998: Ruang Mimpi Anak Muda Pada tahun 1998, Gang Siaga adalah saksi bisu dari pergulatan hidup kami sebagai anak muda yang sedang menjemput takdir.  Saat itu, Aji adalah seorang pemuda kelahiran Sumenep yang sedang berjuang meniti karier sebagai biduan spesialis dangdut....