Postingan

Featured Post

Usai Libur Panjang, SDN Padangdangan 2 Giatkan Kembali Program ‘Bersase’

Gambar
Giat Bersase SDN Padangdangan 2. [sh] SUMENEP – Mengawali kegiatan di awal masuk sekolah, SDN Padangdangan 2 Kecamatan Pasongsongan kembali menghidupkan rutinitas positif melalui program Bersase (Bersih Sampah Sekolah). Sabtu (3/1/2026).  Kegiatan yang dilaksanakan tiap hari Sabtu ini jadi momentum bagi seluruh warga sekolah untuk menjaga kebersihan lingkungan belajar. Kegiatan Bersase kali ini terasa berbeda karena merupakan aksi perdana setelah para siswa dan guru menjalani masa libur panjang.  Kondisi halaman sekolah yang dipenuhi dedaunan kering berserakan jadi target utama dalam aksi bersih-bersih tersebut. Semangat Baru dengan Kehadiran Guru Tambahan Salah seorang guru honorer SDN Padangdangan 2, Zainudin, S.Pd, menjelaskan bahwa program Bersase bukan sekadar rutinitas membersihkan lingkungan, melainkan upaya membentuk karakter peduli lingkungan bagi para siswa. "Bersase kali ini adalah yang perdana dilaksanakan setelah masa libur panjang. Otomatis sampah dedaunan banyak...

Jejak Ju’ Keng: Saudagar Tibet di Pesisir Pasongsongan dan Pusaranya di Kompleks Sunan Ampel

Gambar
Kiai Muhammad Ersyad (kiri) bersama penulis. [sh] Desa Pasongsongan di Kabupaten Sumenep tidak hanya dikenal dengan hasil lautnya yang melimpah, tapi juga menyimpan narasi sejarah tentang asimilasi budaya dan kejayaan ekonomi. Salah satu tokoh kunci yang jadi akar silsilah masyarakat setempat adalah Ju’ Keng, seorang leluhur peranakan Tionghoa yang membawa pengaruh besar sejak abad ke-17. Kedatangan Sang Saudagar dari Tibet Menurut penuturan Kiai Ersyad, salah seorang keturunan Ju’ Keng yang kini telah sepuh di Pasongsongan, Ju’ Keng bukanlah pendatang biasa. Ia diyakini berasal dari wilayah Tiongkok Tibet. Ju’ Keng diperkirakan menginjakkan kaki di bumi Sumenep melalui pelabuhan pesisir Pasongsongan pada sekitar abad ke-17 Masehi. Pada masa itu, Pasongsongan merupakan titik strategis bagi perdagangan maritim. Kedatangan Ju’ Keng menandai awal mula geliat ekonomi yang signifikan di wilayah tersebut. Ia tidak hanya membawa komoditas dagangan, tapi juga visi bisnis yang mel...

Menelusuri Jejak Ju’ Keng: Leluhur Peranakan Tionghoa di Pesisir Pasongsongan

Gambar
Kiai Muhammad Ersyad (kiri) bersama penulis. [sh] Desa/Kecamatan Pasongsongan di Kabupaten Sumenep dikenal sebagai salah satu wilayah pesisir dengan sejarah maritim yang kuat. Tempo dulu, pelabuhan pesisir Pasongsongan merupakan tempat para Raja Sumenep ketika hendak bepergian ke pulau lain. Tapi, di balik deburan ombaknya, tersimpan sebuah kisah silsilah yang unik mengenai sosok Ju’ Keng, sosok leluhur peranakan Tionghoa yang jadi bagian penting dari sejarah komunitas lokal di sana. Kedatangan dari Tibet di Abad ke-17 Berdasarkan penuturan Kiai Ersyad, salah satu keturunan Ju’ Keng yang kini telah sepuh di Pasongsongan, Ju’ Keng diperkirakan tiba di Sumenep pada abad ke-17 Masehi. Beliau disebut berasal dari wilayah Tiongkok bagian Tibet. Kedatangan Ju’ Keng ke Madura tidak melalui jalur darat, melainkan masuk melalui gerbang maritim utama di masa itu, yakni pelabuhan pesisir Pasongsongan. Kehadirannya di abad ke-17 ini bertepatan dengan masa dimana perdagangan Nusantara...

Meluruskan Citra: Madas dan Solidaritas Warga Madura di Perantauan

Gambar
Kasus pengusiran seorang nenek di Surabaya yang belakangan ini viral telah menimbulkan gelombang spekulasi di tengah masyarakat, terutama mengenai keterlibatan organisasi kemasyarakatan Madas (Madura Asli). Meskipun tudingan miring sempat berhembus kencang, pengurus pusat Madas dengan tegas membantah bahwa pelaku tindakan tersebut adalah bagian dari anggota mereka. Penting bagi publik untuk tidak terjebak dalam penghakiman sepihak sebelum fakta hukum terungkap sepenuhnya, agar sebuah isu individual tidak berkembang menjadi sentimen negatif terhadap sebuah entitas organisasi yang sah. Sejatinya, Madas hadir sebagai wadah strategis yang mengakomodir berbagai kepentingan positif serta menjalin silaturrahmi erat sesama warga Madura di perantauan. Sebagai organisasi yang menjunjung tinggi nilai persaudaraan, Madas berfungsi sebagai jembatan sosial bagi warga Madura untuk saling membantu dalam beradaptasi dan berkontribusi di tanah rantau. Keberadaan organisasi seperti ini sangat k...

Jurnal PPG 2025: Pembelajaran Mendalam dan Asesmen, Topik 2 "Pembelajaran Berdiferensiasi"

Gambar
  1. Latar Belakang Belajar merupakan sebuah proses evolusi dinamis yang melibatkan berbagai pihak, sehingga menuntut guru profesional untuk menguasai pembelajaran berdiferensiasi. Pendekatan ini jadi sangat esensial karena mengakui keunikan setiap siswa, baik dari segi gaya belajar, minat, maupun kemampuan mereka. Dalam praktiknya, diferensiasi mengharuskan pendidik untuk meninggalkan metode pengajaran yang seragam dan beralih pada penyesuaian materi, aktivitas, serta penilaian yang spesifik. Dengan demikian, kebutuhan belajar individu bisa terpenuhi secara optimal melalui strategi yang selaras dengan karakteristik masing-masing siswa. 2. Pengertian Pembelajaran Berdiferensiasi Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pendekatan pedagogis yang secara sadar menyesuaikan konten, proses, dan produk belajar berdasarkan kebutuhan, minat, serta profil peserta didik. Sejalan dengan pandangan Carol Ann Tomlinson, pendekatan ini didefinisikan sebagai ikhtiar melahirkan kesesuaian a...

MAKALAH: Perkembangan Konsep Matematika Dasar dan Implementasinya dalam Pembelajaran SD

Gambar

Gaji Guru PPPK Paruh Waktu dan Ironi Bantuan Sosial

Gambar
Gaji guru PPPK Paruh Waktu sangat bergantung pada kemampuan Pemerintah Daerah. Akibatnya, banyak guru menerima penghasilan yang jauh dari kata layak, meskipun mereka memikul tanggung jawab besar. Menjadi guru membutuhkan kesiapan mental menghadapi peserta didik, ditambah beban administrasi yang mengharuskan mereka berjam-jam di depan laptop mengunggah berbagai data dan berkas. Di sisi lain, penerima Program Keluarga Harapan (PKH) rutin menerima bantuan pemerintah. PKH tentu sangat pantas diberikan kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Tapi, yang jadi persoalan adalah masih ditemukannya sebagian penerima PKH yang secara ekonomi tergolong cukup sejahtera, sementara guru PPPK Paruh Waktu justru harus berjuang dengan gaji minim tanpa kepastian kesejahteraan. Kondisi ini menimbulkan rasa ketidakadilan. Guru yang berperan langsung mencerdaskan generasi bangsa seolah kurang memperoleh atensi pemangku kebijakan, sementara bantuan sosial belum sepenuhnya tepat sasaran. S...

Gaji Guru PPPK Paruh Waktu yang Belum Berkeadilan

Gambar
Gaji guru PPPK Paruh Waktu saat ini masih sangat beragam di setiap daerah karena bergantung pada kemampuan keuangan Pemerintah Daerah. Kondisi ini membuat banyak guru menerima gaji yang jauh dari kata layak, walau beban kerja dan tanggung jawab mereka sama. Padahal, jadi guru bukanlah pekerjaan ringan. Guru dituntut memiliki kesiapan mental dalam menghadapi berbagai karakter peserta didik. Selain mengajar, mereka juga harus mengerjakan banyak tugas administrasi, seperti mengunggah data dan berkas pembelajaran melalui berbagai aplikasi, yang sering kali memakan waktu dan tenaga. Gaji yang rendah tentu berdampak pada kesejahteraan dan motivasi guru. Sangat tidak adil jika tuntutan profesionalisme tinggi tidak diimbangi dengan penghasilan yang memadai. Pendidikan yang berkualitas tidak akan terwujud jika para pendidiknya terus bekerja dalam keterbatasan. Sudah seharusnya ada perhatian lebih serius dari pemerintah agar gaji guru PPPK Paruh Waktu lebih layak dan berkeadilan. ...

Pesta MBG dan Keselamatan Sekolah: Jangan Abaikan yang Lebih Mendesak

Gambar
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah-sekolah merupakan langkah positif pemerintah dalam membantu pemenuhan gizi seimbang bagi peserta didik. Program ini sangat bermanfaat, terutama bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, karena gizi yang baik berperan penting dalam tumbuh kembang dan konsentrasi belajar mereka. Tapi di balik manfaat tersebut, ada persoalan mendesak yang tidak boleh diabaikan, khususnya di Pulau Garam Madura. Hingga saat ini, masih banyak gedung sekolah yang kondisinya memprihatinkan. Bangunan yang sudah tua, rapuh, bahkan sebagian roboh jadi ancaman nyata bagi keselamatan peserta didik dan guru.   Ironis rasanya ketika anak-anak mendapatkan makanan bergizi, tapi harus belajar di ruang kelas yang tidak aman. Keselamatan sejatinya jadi prioritas utama dalam dunia pendidikan. Gedung sekolah yang layak bukan sekadar fasilitas, melainkan kebutuhan dasar. Tanpa ruang belajar yang aman, proses pendidikan justru berubah jadi aktivitas yang penuh r...

Ironi Guru PPPK Paruh Waktu: Beban Mental "Full Time", Gaji "Seikhlasnya"

Gambar
Transformasi status tenaga honorer jadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu digadang-gadang sebagai "sekoci penyelamat" untuk menghindari pemutusan hubungan kerja massal. Tapi, di balik narasi penyelamatan tersebut, tersimpan realitas pahit yang mesti ditelan oleh ribuan guru di berbagai pelosok negeri. Kebijakan yang menyerahkan besaran gaji PPPK Paruh Waktu kepada kemampuan keuangan masing-masing Pemerintah Daerah (Pemda) adalah pedang bermata dua. Bagi daerah dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) tinggi, mungkin ini bukan masalah. Tapi, bagi daerah dengan fiskal "cekak", kebijakan ini jadi legitimasi untuk menggaji guru dengan nominal yang jauh dari kata layak—bahkan sering kali lebih rendah dari Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK). Ketimpangan yang Dinormalisasi Sangat tidak adil ketika standar kesejahteraan seorang pendidik ditentukan semata-mata oleh lokasi geografis tempat mereka mengabdi. Guru di daerah A bisa mendapatkan ...

Kisruh Ormas Madas dan Cermin Penegakan Hukum Kita

Gambar
Kisruh yang melibatkan organisasi masyarakat (ormas) Madas (Madura Asli) di Surabaya belakangan ini menyita perhatian publik nasional. Media sosial dipenuhi kecaman, ancaman, caci maki, dan lain sebagainya. Pemicu kejadian adalah pengusiran seorang nenek dari rumah yang telah lama ia tempati, yang disinyalir dilakukan oknum yang dikaitkan dengan ormas tersebut. Kasus ini dengan cepat menyebar luas di media sosial dan memunculkan gelombang empati sekaligus kemarahan dari masyarakat. Di tengah derasnya opini publik, Ketua Ormas Madas membantah keras bahwa organisasinya terlibat dalam tindakan pengusiran paksa tersebut. Menurutnya, Madas tidak memiliki anggota yang melakukan perbuatan seperti yang dituduhkan. Ia juga menegaskan bahwa persoalan tersebut murni konflik kepemilikan rumah, dimana sang nenek menempati rumah yang disebut-sebut telah dijual kepada pihak lain. Dari sudut pandang ini, pengusiran tidak berdiri sebagai tindakan sewenang-wenang, melainkan konsekuensi dari ...

Kisruh Ormas Madas Surabaya, Nenek Terusir dan Pertanyaan soal Posisi Komunitas Madura di Perantauan

Gambar
Kerap terdengar di ruang-ruang diskusi publik: “Kenapa komunitas Madura yang ada di perantauan selalu mendapatkan serangan teror dari warga setempat?”   Pertanyaan ini tentu tidak lahir dari ruang kosong, melainkan dari pengalaman sosial yang dirasakan oleh sebagian masyarakat Madura di berbagai daerah. Faktanya, banyak orang Madura di perantauan hidup berdampingan secara baik dengan warga sekitar. Mereka bekerja keras, membuka usaha, taat beribadah, dan ikut berkontribusi dalam kegiatan sosial di lingkungan tempat tinggalnya. Tapi ironisnya, keberhasilan ekonomi yang diraih lewat kerja keras itu justru kerap memantik kecemburuan sosial. Tidak jarang muncul perilaku usil, intimidasi, hingga stigma negatif yang diarahkan kepada komunitas Madura. Dalam konteks seperti ini, pembentukan ormas oleh komunitas Madura di perantauan seharusnya dipahami secara lebih jernih. Bagi sebagian orang, ormas bukanlah alat untuk menebar ketakutan, melainkan ikhtiar kolektif untuk saling men...

Dua Darah Madura di Panggung Tiga Besar DA7 Indosiar: Hiburan, Prestasi, dan Oase di Tengah Hiruk-Pikuk Politik

Gambar
Panggung Dangdut Akademi 7 (DA7) Indosiar bukan sekadar ajang adu vokal. Ia menjelma jadi ruang harapan, tempat mimpi-mimpi tumbuh dan kerja keras menemukan panggungnya. Tahun ini, sorotan publik menguat ketika dua sosok berdarah Madura berhasil menembus babak tiga besar: April, duta Cirebon dengan garis ibu dari Sampang yang dinobatkan sebagai juara ketiga, serta Valen asal Pamekasan yang sukses menduduki peringkat kedua. Capaian ini bukan hanya prestasi personal, melainkan kebanggaan kultural yang menegaskan daya saing talenta daerah di level nasional. April dan Valen hadir dengan karakter vokal dan penampilan yang kuat. Mereka membawa identitas, ketekunan, dan konsistensi—tiga hal yang sering jadi penentu di panggung kompetisi. April, dengan latar Cirebon dan akar Sampang, menunjukkan bagaimana keberagaman identitas justru memperkaya ekspresi seni. Sementara Valen dari Pamekasan tampil solid, matang, dan berani, mengokohkan posisinya sebagai salah satu biduan terbaik musim...

Kepala SDN Soddara 2 Manfaatkan Libur Panjang untuk Benahi Halaman Sekolah

Gambar
Bambang Sutrisno (tengah) turut serta bekerja. [sh] SUMENEP — Kepala SDN Soddara 2 Kecamatan Pasongsongan, Bambang Sutrisno, S.Pd, memanfaatkan masa libur panjang sekolah tahun ini dengan melakukan pembenahan lingkungan sekolah. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pelesterisasi halaman sekolah yang selama ini kerap becek saat musim hujan. Ahad (28/12/2025). Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap kenyamanan dan semangat belajar peserta didik. Bambang Sutrisno menilai kondisi halaman sekolah yang berlumpur dan licin seringkali jadi kendala bagi siswa saat menuju ruang kelas, bahkan berpotensi membahayakan keselamatan mereka. Dengan pelesterisasi halaman sekolah, ia berharap tercipta lingkungan belajar yang lebih bersih, aman, dan ramah bagi seluruh warga sekolah. Menurutnya, sekolah yang nyaman tidak hanya ditentukan oleh ruang kelas, tetapi juga oleh lingkungan sekitar yang mendukung aktivitas belajar mengajar. “Kenyamanan siswa adalah prioritas. ...

Sayyidi, S.Pd: Program Tahlil Bergilir Jadi Perekat Silaturahmi Pesantren dan Warga

Gambar
Sayyidi, S.Pd [sh] PAMEKASAN – Pondok Pesantren (Ponpes) Annidhamiyah yang berlokasi di Dusun Jeppon, Desa Bindang, Kecamatan Pasean, terus berinovasi dalam program keumatan. Pesantren ini resmi menjalankan program pembacaan Surah Yasin dan Tahlil yang dilaksanakan secara bergilir (safari) ke rumah-rumah santri. Program ini dirancang sebagai bentuk pengabdian masyarakat sekaligus sarana pendidikan karakter bagi para santri agar terbiasa terjun langsung di tengah lingkungan sosial. Kepala SMA Annidhamiyah, Sayyidi, S.Pd., menyampaikan dukungannya terhadap inisiatif ini. Ia menilai program tersebut memiliki urgensi yang kuat dalam membangun jembatan komunikasi antara lembaga pendidikan dan orang tua siswa atau wali santri. "Program ini sangat positif dan kami dukung penuh. Nilai utamanya adalah silaturahmi, di mana pihak pesantren bisa bertatap muka langsung dengan keluarga santri di kediaman mereka, sehingga hubungan emosional semakin erat," ungkap Sayyidi. Lebih jauh...