Postingan

Featured Post

Suara Mahasiswa, Teror Kritik Prabowo, dan Tragedi Anak NTT yang Terlupa

Gambar
Dalam podcast Forum Keadilan TV, suara mahasiswa kembali terdengar. Bukan lewat toa demo. Tapi lewat YouTube.  Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, bicara soal kebijakan Presiden Prabowo. Lalu katanya diteror. Negara pun sigap. Sigap membuat gaduh. Bukan sigap melindungi warganya. Tiyo membongkar cerita pahit dari NTT. Anak usia 10 tahun. Mengakhiri hidup. Bukan karena cinta. Bukan karena game. Tapi karena alat tulis Rp10 ribu.  Angka yang terlalu kecil untuk APBN. Terlalu besar untuk nurani negara. Kita punya tank. Kita punya seragam. Tapi tak punya pensil untuk anak miskin. Ironisnya, yang ribut justru kritiknya. Bukan tragedinya. Mahasiswa diteror. Pejabat santai. Negara tersinggung. Rakyat disuruh mengerti.  Mungkin memang begitu konsep keadilan versi baru. Nyawa murah. Kritik mahal. Dan alat tulis? Tetap jadi barang mewah bagi mereka yang lahir di pinggir peta. [kay]

BEM UGM, MBG Gratis yang Tak Gratis, Kritik Prabowo dan Teror Demokrasi

Gambar
Berbicara di podcast Forum Keadilan TV, Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto  tiba-tiba jadi ahli horor. Bukan karena hantu. Tapi karena kritik. Ia bilang, setelah menyentil kebijakan Presiden Prabowo, teror pun datang. Demokrasi rupanya masih sensitif. Mudah kaget. Sedikit dikritik, langsung panas dingin. BEM UGM juga menyorot MBG. Makan Bergizi Gratis. Kedengarannya manis. Seperti promo minimarket. Padahal uangnya dari rakyat. Bukan dari langit.  Kata “gratis” jadi lucu. Sekaligus menyinggung. Rakyat bayar, negara tersenyum, lalu bilang: ini hadiah. Lebih pedas lagi, MBG disebut ladang korupsi. Bukan sawah. Tapi subur. Karena anggaran besar selalu menggoda.  Kritik pun dianggap ancaman. Maka teror jadi bahasa alternatif. Demokrasi versi baru. Rakyat diam, pejabat kenyang, dan kritik cukup didengar podcast saja. [kay]

Magrib Hari Ini Nikmat, Dompet Tetap Teriak: Pajak Mobil Indonesia vs Malaysia

Gambar
Berbuka magrib hari ini terasa nikmat. Teh manis hangat. Gorengan seadanya. Keluarga kecil lengkap. Damai. Kami sepakat menunda stres. Terutama soal pajak mobil yang hobi mencekik leher. Karena iman memang kuat. Tapi dompet punya batas sabar. Di Malaysia, pajak mobil katanya sederhana. Namanya Road Tax. Kedengarannya ramah.  Untuk Avanza 1.5L, cuma sekitar RM 90 setahun. Di rupiahkan, Rp. 300-400 ribu per tahun. Rasanya seperti diskon akhir pekan.  Sistemnya progresif. Berdasar kapasitas mesin. Tanpa drama STNK lima tahunan. Tanpa ritual administrasi yang bikin uban tumbuh cepat. Di Indonesia, ceritanya lebih religius. Pajak Avanza 1.5L bisa Rp 4 sampai Rp 5 juta per tahun.  Mungkin karena mobilnya minum bensin pakai doa. Atau karena aspal kita diberkahi malaikat pajak. Magrib hari ini jadi reflektif. Menahan lapar di bulan Ramadhan itu ibadah. Menahan pajak? Itu ujian tingkat lanjut. Hehe. [kay]

Berbuka Puasa dengan "Piring Kosong" Negara

Gambar
​Magrib hari ini sungguh syahdu. Aroma takjil ibu jauh lebih jujur daripada janji politik mana pun.  Kami duduk bersila di tikar, menikmati hidangan sederhana hasil keringat sendiri yang jauh dari bau amis anggaran. Disini, syukur itu gratis dan mengenyangkan. Tidak seperti proyek megah di luar sana yang katanya mengenyangkan rakyat, tapi justru membuat dompet negara tersedak. ​Mari sejenak mengheningkan cipta untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).  Sebuah inovasi brilian guna memindahkan angka di kas negara ke kantong para "ahli gizi" bersafari.  Kita harus prihatin melihat uang rakyat habis demi membiayai kunyahan massal yang konon penuh protein.  Padahal, aroma korupsi sistematisnya jauh lebih menyengat daripada sambal terasi di meja makan kita saat ini. ​Sungguh sebuah prestasi luar biasa jika korupsi bisa disajikan dalam bentuk paket nasi kotak.  Negara ini memang kreatif; mengubah gizi jadi celah korupsi, dan ubah lapar jadi proyek.  Selamat berbuk...

Magrib yang Hangat, Sindiran Halus untuk Klaim Nasab dan Akhlak Palsu

Gambar
Magrib hari ini terasa lebih hangat. Langit seperti ikut tersenyum. Azan datang pelan, tapi menenangkan.  Meja sederhana penuh cerita. Ada takjil, ada teh hangat, ada tawa kecil yang lama tak terdengar. Berbuka bersama orang-orang tercinta selalu punya cara untuk menyembuhkan hari letih. Di sela kunyahan pertama, saya teringat banyak kisah yang beredar. Cerita-cerita khurafat yang dibungkus jubah dan sorban.  Tentang sebagian imigran Yaman, mengaku keturunan Rasulullah SAW. Katanya darah mulia. Katanya pewaris nasab.  Tapi tingkahnya jauh dari akhlak yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Lidahnya tajam. Sikapnya tinggi hati. Seolah garis keturunan lebih penting dari garis kebaikan. Magrib hari ini mengajarkan hal lain.  Kemuliaan tidak turun dari nama. Ia tumbuh dari laku. Dari cara kita menahan amarah. Dari cara kita memuliakan sesama.  Di meja berbuka ini, saya belajar lagi bahwa yang membuat suasana indah bukan klaim silsilah, melainkan akhlak yang sederhana da...

Berbuka dengan Janji, Kenyang dengan Mimpi

Gambar
​Indahnya berbuka puasa hari ini. Meja makan penuh kehangatan keluarga. Sementara di luar sana, negara sedang sibuk memanjakan perut rakyat dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sungguh mulia. Kita rela menguras tabungan negara demi sepiring nasi yang konon bergizi tinggi, meski harus dibayar dengan keringat masa depan yang mulai menguap.  Siapa butuh tabungan darurat jika kita punya menu makan siang yang difoto secara estetik? ​Pendidikan? Ah, itu urusan belakangan. Anggaran sekolah memang sengaja dipangkas agar para siswa bisa belajar langsung dari alam.  Gedung sekolah yang mau roboh itu sebenarnya adalah konsep "ruang kelas terbuka" yang sangat revolusioner.  Atap bocor hanyalah simulasi hujan alami agar anak bangsa lebih tangguh menghadapi badai kehidupan. Lagipula, buat apa gedung sekolah kokoh kalau perut sudah kenyang terisi anggaran negara yang kian menipis? ​Indahnya berbuka puasa hari ini. ​Mari kita nikmati takjil ini dengan penuh keprihatinan yang elegan...

Berbuka dalam Pelukan Pajak dan Korupsi

Gambar
​Sungguh syahdu Magrib kali ini. Aroma kolak menyatu pas dengan aroma ketidakpastian ekonomi yang kian menyengat. Kita duduk bersama, merayakan kemenangan setelah puasa, sembari pura-pura lupa bahwa harga beras sudah lebih galak dari ibu mertua.  Tidak apa-apa kantong kering, yang penting perut kenyang sesaat sebelum besok kembali memikirkan cara membayar cicilan yang bunganya setinggi cita-cita pejabat kita. ​Pemerintah memang sangat menyayangi kita, sampai-sampai pajak dipungut dengan semangat yang luar biasa heroik.  Setiap suapan takjil hari ini adalah kontribusi nyata bagi negara, mungkin untuk membiayai renovasi kantor atau perjalanan dinas yang urgensinya hanya Tuhan yang tahu.  Kita adalah pahlawan tanpa tanda jasa, terus menyetor upeti meski daya beli sudah sekarat di ICU, demi menjaga gaya hidup mewah mereka yang duduk di singgasana sana. ​Sementara itu, para koruptor sedang asyik "ngabuburit" di balik jeruji besi yang konon fasilitasnya lebih nyaman dari kos-ko...

Takjil: Bukan Sekadar Makanan, Tapi Ritual Budaya

Gambar
War Takjil adalah istilah viral yang menggambarkan fenomena berebut beli makanan buka puasa agar tidak kehabisan. Di Indonesia, fenomena "War Takjil" membuktikan bahwa kudapan berbuka puasa ini telah jadi pemersatu bangsa. Tak peduli apa latar belakang agamanya. Namun, apa sebenarnya makna di balik tradisi ini? ​Secara harfiah, takjil berasal dari bahasa Arab yang berarti "menyegerakan". Awalnya, ini adalah perintah untuk segera membatalkan puasa saat azan Magrib tiba. Tapi di Indonesia, makna tersebut bergeser. Kini, takjil lebih dikenal sebagai sebutan untuk kudapan manis atau gorengan yang disantap saat berbuka. ​ Mengapa Takjil Istimewa? ​Takjil bukan hanya soal mengisi perut yang kosong, melainkan simbol dari: 1. ​Kemenangan Kecil: Hadiah sederhana setelah seharian menahan nafsu. ​2. Solidaritas Sosial: Momen berbagi makanan kepada tetangga atau musafir di jalan. 3. ​Nadi Ekonomi: Penggerak utama UMKM dan pedagang musiman yang menghidupkan suasana kota. ​Takji...

Syahdu di Ujung Senja: Mengapa Magrib Hari Ini Begitu Berarti

Gambar
Bagi umat Islam, waktu Magrib selalu memiliki tempat istimewa. Saat berada di bulan suci Ramadan—seperti hari ini—Magrib membawa resonansi spiritual yang jauh lebih mendalam. Di detik-detik matahari terbenam, Magrib bertransformasi dari sekadar pembatas waktu siang dan malam, jadi momen puncak sebuah ketaatan: waktu berbuka puasa. Sejak fajar menyingsing, seorang muslim menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu. Perut yang kosong dan tenggorokan yang kering bukanlah sebuah bentuk siksaan, melainkan wujud kepatuhan mutlak kepada Allah SWT. Ketika ufuk barat mulai memerah, dilanjutkan dengan azan Magrib bersahutan dari menara-menara masjid, ada getaran emosi yang sulit dilukiskan. Itulah momen saat batas antara kelemahan manusiawi dan luasnya kasih sayang Sang Pencipta terasa begitu dekat. Berbuka puasa tidak pernah sesederhana memuaskan rasa lapar. Sebagaimana yang diyakini umat muslim, ada dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa: kebahagiaan saat ia berbuka dan saat ia bertemu...

Lebih dari Sekadar Kata: Mengapa Kita Masih Perlu Doa Buka Puasa?

Gambar
​Diantara suara denting sendok dan aroma takjil yang menggoda, doa buka puasa seringkali terucap begitu cepat—atau bahkan terlewatkan karena rasa lapar.  Muncul pertanyaan: Jika Allah sudah tahu kita bersyukur, mengapa kita masih dianjurkan melafalkan doa? ​1. Jeda Spiritual ​Buka puasa adalah momen dimana kendali diri kita diuji dalam sehari. Menunda suapan pertama selama beberapa detik untuk berdoa adalah bentuk pernyataan sikap.  Kita sedang menegaskan bahwa, walau kita amat butuh makan, kita tetap menempatkan Allah SWT di atas rasa lapar. ​2. Manifestasi Syukur ​Secara psikologis, mengungkapkan sesuatu dengan kata-kata memperkuat kesadaran kita. Dalam doa, kita menyebutkan secara spesifik bahwa rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah.  Ini adalah cara kita "hadir" sepenuhnya menikmati nikmat air, yang mungkin selama setahun terakhir kita anggap remeh. ​3. Waktu Mustajab ​Secara teologis, momen berbuka adalah salah satu waktu dimana doa tidak tertolak. Melewat...

Panduan Lengkap Niat dan Tata Cara Sholat Witir

Gambar
Sholat witir adalah sholat sunnah yang dikerjakan dengan jumlah rakaat ganjil sebagai penutup ibadah malam. Rasulullah SAW sangat menganjurkan sholat ini, bahkan menyebutnya sebagai salah satu ibadah yang dicintai Allah SWT karena sifatnya yang ganjil ( witir ). Sholat witir dilaksanakan setelah sholat Isya hingga sebelum terbit fajar (waktu Subuh). Biasanya, sholat ini dirangkaikan setelah sholat tarawih pada bulan Ramadhan atau setelah sholat tahajud di hari-hari biasa. Bacaan Niat Sholat Witir Niat sholat witir bervariasi tergantung pada jumlah rakaat yang diambil. Berikut adalah pilihannya: Jika Anda mengerjakan 3 rakaat dengan cara 2 rakaat salam lalu ditambah 1 rakaat, maka niat untuk 2 rakaat pertama adalah: A. Jika Sholat 2 Rakaat (Bagian dari witir 3 Rakaat) Jika Anda mengerjakan 3 rakaat dengan cara 2 rakaat salam lalu ditambah 1 rakaat, maka niat untuk 2 rakaat pertama adalah: Ushallii sunnatal witri rak'ataini lillaahi ta'aalaa. "Aku niat sh...

Imsak Hari Ini: Antara Garis Finis Makan dan "Lampu Kuning" Spiritual

Gambar
Pernahkah Anda sedang asyik menyantap sisa nasi campur saat sahur, tiba-tiba suara dari pengeras suara masjid meneriakkan, "Imsaaaaak!"?  Seketika itu juga, suasana meja makan berubah jadi adegan film aksi: air mineral diteguk secepat kilat dan mulut dipaksa mengunyah lebih cepat dari mesin. Tapi, di balik kepanikan itu, muncul pertanyaan mendasar: Apa sih sebenarnya imsak itu?  Dan kalau dipikir-pikir, kenapa kita harus puasa disiang hari yang terik? Kenapa tidak malam saja saat kita bisa melewatinya dengan tidur? Imsak: Bukan "Stop", Tapi "Hati-hati" Secara bahasa, imsak berarti menahan. Dalam tradisi di Indonesia, waktu imsak biasanya ditetapkan sekitar 10 menit sebelum adzan Subuh. Banyak yang salah kaprah menganggap imsak adalah tanda dimulainya puasa. Padahal, secara hukum fikih, batas akhir makan sahur adalah saat terbit fajar shadiq (waktu Subuh).  Jadi, kalau Anda masih memegang gelas saat imsak berkumandang, Anda sebenarnya masih boleh minum. Ims...

Ceramah Khurafat Imigran Yaman: Saat Mi’raj Jadi Cerita Harian yang Bikin Publik Tertawa Lucu

Gambar
Berbagai ceramah penuh cerita di luar nalar terus diperdengarkan. Datangnya dari para imigran Yaman. Isinya campur aduk antara sejarah dan khurafat. Katanya ini ajaran lama. Katanya ini warisan leluhur nenek moyangnya.  Pengakuannya sebagai cucu Nabi. Tujuannya untuk mengelabui masayarakat Indonesia. Supaya bisa memperoleh harta dan tahta, bahkan wanita. Masyarakat justru mengernyit. Bukan terpikat, malah bosan. Ada yang bilang para leluhur mereka lebih “sakti” dari Rasulullah SAW.  Nabi Muhammad SAW mi’raj sekali seumur hidup. Sementara satu nenek moyangnya bisa mi’raj puluhan kali sehari. Seperti naik ojek langganan. Hmm Akal sehat pun minta cuti. Iman diseret ke panggung dongeng. Cerita makin tinggi, logika makin tertinggal.  Publik tidak lagi takzim, tapi tertawa kecut. Karena dakwah tanpa nalar, akhirnya hanya jadi hiburan kosong. [kay]

Dikasih Hati Minta Jantung: Noktah Sejarah Imigran Yaman dan Ulama Nusantara

Gambar
Sejarah memang cerewet. Sejarah tidak akan berubah selama ada kehidupan di alam fana ini.  Ia mencatat dengan rapi bahwa imigran Yaman didatangkan Belanda untuk ikut menopang roda penjajahan.  Catatan hitam itu dibiarkan menguning. Menguap seiring waktu. Masyarakat Nusantara memilih lupa. Demi persaudaraan. Demi ukhuwah yang katanya suci. Umat Islam di negeri ini membuka pintu lebar-lebar. Menyambut sebagai saudara. Menghormati sebagai tamu.  Tidak bertanya asal-usul. Tidak mengungkit peran lama. Karena iman, bukan silsilah, yang mestinya jadi ukuran. Kini, masalah muncul ketika keramahan disalahartikan. Dikasih hati, minta jantung. Tak sadar dirinya siapa. Ulama Nusantara dianggap figuran. Darah dianggap lebih mulia dari karya. Seolah nasab bisa menggantikan akhlak.  Endingnya, yang diagungkan justru bayangan, sementara yang bekerja nyata malah diremehkan. Pribumi dianggap sampah.  [kay]

NU Abu-Abu Soal Imigran Yaman, Diam yang Justru Menggelapkan Akal Sehat

Gambar
Pengurus NU, dari pusat sampai ranting, tampak betah di warna abu-abu. Tidak hitam. Tidak putih.  Seolah persoalan imigran Yaman ini hanya kabut pagi. Datang, lalu diharap hilang sendiri.  Padahal kegaduhan sudah jadi konsumsi harian umat.Tatanan berbangsa digeser pelan-pelan. Atas nama agama. Budaya lokal dianggap remeh.  Sejarah Nusantara dilipat. Lalu muncul klaim nasab suci. Katanya keturunan Nabi.  Umat diminta percaya. Tanpa bukti. Tanpa malu. Kritik dianggap dosa. Ironisnya, mereka menumpang hidup di negeri ini. Tapi bertingkah seperti pemilik sertifikat surga. Paling benar. Paling mulia. Paling berhak.  Sementara NU masih menimbang-nimbang. Takut salah sikap. Padahal diam pun sudah jadi sikap. Dan abu-abu sering kali lebih gelap dari hitam. [kay]

Vonis Ringan bagi Mereka Bergelar Habib: Hukum Tumpul atau Ada Beking?

Gambar
Berulang kali publik bertanya di ruang kosong.  Tiap perkara datang. Bagi mereka yang bergelar “habib” jika duduk di kursi terdakwa. Vonisnya ringan.  Senyumnya lebar. Hukum pun tampak ikut menunduk.  Entah karena wibawa. Entah karena kebiasaan. Lalu beredar kabar burung. Katanya ada yang membekingi. Katanya pula berseragam.  TNI/Polri disebut-sebut. Serius amat. Institusi negara kok jadi legenda pasar.  Bisa “dibeli” seperti jajanan sore. Masyarakat pun bengong. Negara kok terasa murah. Tentu kita berharap ini hoaks. Sangat berharap. Karena kalau benar, ini gawat.  Hukum bukan lagi timbangan. Tapi timbunan. Gelar jadi perisai. Isu jadi penghapus.  Dan publik cuma bisa berdoa. Semoga keadilan belum dijual. [kay]

Indonesia Milik Siapa? Anekdot Klaim Aulia Tarim dan Nasab yang Merasa Paling Berhak

Gambar
Beredar selentingan yang bikin dahi berkerut. Katanya Indonesia milik aulia Tarim.  Klaim besar, bukti tipis. Seolah negeri ini sertifikatnya turun dari langit. Rakyat cuma numpang lahir dan bayar pajak. Dengan percaya diri tingkat dewa, para pembegal nasab Nabi tampil ke depan. Modal silsilah dijadikan kartu akses. Apalagi katanya ada “saudara” di kursi strategis negara. Maka urusan iman berubah jadi urusan jabatan. Doa dibacakan, lobi dijalankan. Tak heran tatanan persatuan Islam jadi berantakan. Aliran diadu, jamaah dipisah. Semua demi siapa paling dekat ke langit. Indonesia pun ditarik ke garis nasab. Padahal konstitusi tak kenal marga, apalagi klaim warisan surgawi. [kay]

Ijazah Jokowi Tak Kunjung Ditunjukkan, Cinta Rakyat Berubah Jadi Kekecewaan

Gambar
Berita itu beredar seperti kabar lama yang diputar ulang. Soal ijazah asli yang tak kunjung hadir. Seorang negarawan diminta menunjukkan kertas, bukan kebesaran. Rakyat menunggu dengan sabar, lalu lelah. Ironis, di negeri administrasi, justru administrasi jadi misteri. Kekecewaan pun tumbuh rapi. Bukan karena benci, tapi karena cinta yang kebablasan.  Rakyat hanya ingin teladan. Bukan drama.  Ketika pertanyaan dijawab dengan diam, spekulasi jadi hiburan murah. Artinya, keheningan disebut kebijaksanaan. Yang lebih getir, sebagian rakyat malah tersandung hukum. Hanya karena bertanya. Hanya karena berharap.  Negeri ini memang ramah slogan, tapi alergi klarifikasi.  Di sini, cinta pada pemimpin bisa berujung sidang. Dan ijazah tetap jadi legenda. [kay]

MBG dan Sekolah: Program Makan Gratis atau Cara Halus Membuat Pelajar Bergantung?

Gambar
Pemerintah datang ke sekolah dengan senyum paling tulus.  Membawa kotak makan. Diberi nama program mulia. MBG.  Katanya demi gizi. Katanya demi masa depan. Tapi di balik nasi hangat, logika ikut didinginkan. Anak-anak pun belajar hal baru. Datang ke sekolah bukan untuk berpikir. Tapi menunggu makan siang.  Buku bisa lupa. Lapar jangan. Pelan-pelan, ketergantungan tumbuh. Gratis terasa wajib.  Negara hadir, tapi otak disuruh libur. Ironisnya, ini disebut investasi pendidikan. Padahal yang ditanam bukan nalar, tapi kebiasaan menengadah.  Sekolah jadi kantin. Guru kalah pamor dengan lauk pauk.  Dan kita tepuk tangan. Karena pembodohan kini dibungkus gizi. [kay]

Suku Madura di Mana-Mana: Kerja Keras, Iman Kuat, dan Elegi Kehidupan Rantau

Gambar
Berbicara soal Suku Madura memang susah luput dari sorotan.  Mereka ada di mana-mana. Dari pasar sampai proyek. Dari kota besar sampai pelosok.  Bukan karena ingin terkenal. Tapi karena kerja keras memang jarang bisa disembunyikan. Di tanah rantau, etos kerja jadi identitas. Bangun pagi. Pulang sore. Kadang malam. Capek itu biasa. Mengeluh itu bonus.  Maknanya, yang malas sering heran. Kok bisa kuat? Kok bisa tahan?  Padahal jawabannya sederhana. Karena hidup tidak menunggu niat. Rasa percaya diri mereka juga sering disalahpahami. Dibilang nekat. Dibilang terlalu yakin.  Padahal mereka hanya bersandar pada iman. Mayoritas Muslim. Percaya rezeki sudah diatur. Tinggal ikhtiar yang jangan dihemat.  Kalau gagal, coba lagi. Kalau jatuh, berdiri.  Karena bagi mereka, Allah SWT tidak pernah salah kirim rezeki. [kay]

Terobosan Baru: Pusat Therapy Buta Warna Indonesia Beri Harapan Nyata Bagi Penderita Buta Warna

Gambar
​ YOGYAKARTA – Harapan baru bagi penderita buta warna kini hadir di Indonesia. Jumat (13/2/2026).  Metode terapi yang telah dikenal luas dan diakui di luar negeri, kini sukses diadaptasi oleh Pusat Therapy Buta Warna Indonesia.  Dengan rekam jejak yang meyakinkan, banyak pasien dilaporkan sukses pulih setelah menjalani rangkaian perawatan di institusi ini. ​CEO PT Bintang Banyu Urip Internasional, Sersan MS Arifin, mengungkapkan bahwa layanan ini hadir sebagai solusi bagi mereka yang selama ini merasa terhambat oleh keterbatasan penglihatan warna, baik dalam karier maupun kehidupan sehari-hari. ​"Kami membawa teknologi dan metode yang sudah teruji di mancanegara ke Indonesia. Fokus kami adalah pemulihan dan penyembuhan, dan kami bersyukur banyak pasien yang telah merasakan perubahan nyata setelah menjalani terapi di sini," ujar Sersan MS Arifin saat ditemui di kantor pusatnya di Yogyakarta. ​ Pusat Layanan Terpadu ​Untuk menjangkau lebih banyak masyarakat, Pusat Therapy Buta...

Ironi Absen Wajah PPPK Paruh Waktu Sumenep: Disiplin Tinggi, Nasib Gimana?

Gambar
Para guru dan tenaga kependidikan (tendik) PPPK Paruh Waktu di Sumenep mulai resmi jadi model dadakan tiap pagi. Kamis (12/2/2026).  Mesin absen wajah itu memindai senyum-senyum penuh syukur dari para pendidik yang baru aktif sejak 1 Januari 2026.  Sangat mengharukan melihat wajah-wajah ceria itu berebut menyetor biometrik demi membuktikan bahwa mereka benar-benar ada dan nyata. ​Antusiasme mereka sungguh di luar nalar manusia biasa.  Bayangkan, para pejuang pendidikan ini hadir tepat waktu dengan semangat yang meluap-luap, seolah-olah mesin itu adalah pintu menuju gerbang kesejahteraan yang megah.  Mungkin bagi mereka, dipindai oleh mesin jauh lebih terasa "dihargai" daripada sekadar mengajar di dalam kelas yang bangunannya mulai menua. ​Sungguh sebuah simfoni kedisiplinan yang sangat efisien bagi anggaran daerah.  Kita punya sistem absensi sekelas bandara internasional untuk mengawasi mereka yang statusnya bahkan masih "paruh waktu".  Memang benar, wajah ...

MBG Makan Gratis, Perut Kenyang tapi Warung Sekolah Sekarat?

Gambar
Program MBG terdengar mulia. Makan bergizi gratis. Judulnya saja sudah kenyang.  Tapi di balik nasi dan lauk itu, aroma bisnis tercium lebih dulu. Tender berputar. Vendor berdatangan.  Perut siapa yang sebenarnya diutamakan, masih jadi teka-teki. Sebagian orang mulai curiga. MBG bukan sekadar soal gizi. Tapi juga soal peluang.  Anggaran besar. Porsi tetap. Untung terjamin.  Warung kecil di depan sekolah hanya bisa menatap dari kejauhan, sambil menghitung sisa sendok dan harapan. [kay]

Gaji Rp300 Ribu di 2026: Potret Nasib Guru Honorer dan Nakes yang Terlupakan Negara

Gambar
Pemangku kebijakan publik Indonesia pada 2026 katanya sedang sibuk bekerja. Tapi bukan bekerja menaikkan kesejahteraan.  Lebih sibuk merapikan kata-kata di depan kamera televisi.  Sambil lupa melihat angka di slip gaji. Rp 300 ribu. Untuk tenaga kesehatan dan guru honorer.  Negara tersenyum. Dompet mereka menangis. Para pengabdi ini sudah lama jadi tulang punggung. Bukan lima tahun. Ada yang dua puluh tahun lebih.  Mengajar anak bangsa. Merawat orang sakit.  Tapi tetap diperlakukan seperti relawan acara tujuhbelasan. Peroleh ucapan terima kasih.  Bonusnya foto bersama. Soal hidup? Urusan nanti. Urusan Tuhan.  Ironisnya, negara pandai bicara soal masa depan. Soal kemakmuran. Soal SDM unggul. Tapi lupa mengisi perut para penjaganya.  Gaji Rp 300 ribu dianggap wajar. Mungkin karena pengabdian dinilai pakai doa. Bukan rupiah.  Di negeri ini, pengorbanan memang mahal. Yang murah justru penghargaannya. [kay]

Podcast Rhoma–Islah Bongkar Strategi Belanda: Patron Yaman, Kiai Pribumi, dan Haji yang Dibatasi

Gambar
Podcast Rhoma Irama dan Islah Bahrawi terdengar seperti membuka arsip berdebu. Isinya bukan lagu dangdut, tapi politik kolonial.  Belanda ternyata kreatif. Bukan cuma senjata, tapi juga patron. Didatangkanlah orang-orang Yaman. Dipoles jadi kelas utama. Kiai pribumi cukup jadi figuran. Logikanya sederhana. Kalau perlawanan menyala, siram pakai otoritas baru. Maka lahirlah patron “resmi”.  Salah satunya Habib Utsman bin Yahya. Diangkat jadi Mufti Batavia. Orang awam menyebutnya sebagai antek Londo. Jabatan sakral, stempel kolonial. Agama pun diberi seragam dinas. Agar perlawanan lebih mudah diatur. Kolonial licik. Parahnya lagi, urusan haji ikut diatur. Rekomendasi Habib Utsman bin Yahya jelas: batasi jemaah dari Indonesia. Bukan soal kesehatan. Bukan soal kapal. Tapi soal ide. Takut pulang membawa api. Kolonialisme memang licin. Bisa pakai meriam. Bisa juga pakai sorban. [kay]

Podcast Rhoma Irama–Islah Bahrawi Bongkar Peran Orang Yaman di Balik Strategi Belanda

Gambar
Podcast Bisikan Rhoma. Dari sebuah podcast. Rhoma Irama duduk berdiskusi dengan Islah Bahrawi. Topiknya serius, tapi rasanya seperti membuka lemari tua sejarah.  Orang-orang Yaman, kata mereka, bukan sekadar datang. Mereka didatangkan. Ada tujuan. Ada misi. Bukan wisata religi. Belanda rupanya cerdik. Perlawanan pribumi dianggap terlalu berisik. Maka dicarilah peredam. Datanglah figur-figur agama dari Yaman. Diberi panggung. Diberi sorban.  Salah satunya Habib Utsman bin Yahya. Diangkat jadi Mufti Batavia. Jabatan suci, tapi stempelnya kolonial. Ilustrasinya, penjajahan tak selalu pakai senapan. Kadang cukup fatwa. Tak perlu meriam, asal umat tenang. Perlawanan jadi makruh. Tunduk dianggap berkah.  Podcast ini seperti alarm. Bahwa sejarah bisa dibungkus agama. Dan kita, seringkali, tepuk tangan tanpa baca catatan kaki. [kay]

Gelar Habib Tapi Minim Adab? Fenomena Klaim Nasab vs Ulama Lokal

Gambar
Konon, di urat nadi habib mengalir darah suci. Langsung nyambung ke langit.  Tiket surgawi yang membuat mereka merasa tak butuh lagi paspor kesopanan di bumi nusantara.  Menjual nasab demi posisi, tapi lupa bahwa kehormatan itu dijemput dengan adab, bukan sekadar sertifikat silsilah.  Ulama pribumi yang sudah ratusan tahun menjaga kedamaian negeri ini, tiba-tiba dianggap butiran debu.  Di mata mereka, kiai-kiai lokal hanyalah kasta kelas dua yang tidak punya jalur "orang dalam" menuju surga.  Mengerdilkan ilmu orang lain sambil meninggikan ego sendiri tampaknya sudah jadi hobi.  Kini, kegelisahan imigran Yaman mulai menghantui, saat cermin realitas mulai retak.  Masyarakat sudah mulai cerdas. Bisa bedakan mana emas murni dan mana loyang yang cuma disepuh gelar.  Ternyata, tiket VIP ke surga tidak otomatis didapat hanya karena nama belakang yang kearab-araban jika kelakuan masih jauh dari teladan.  Kalau terus begini, jangan salahkan publik ji...

Negeri Kaya, Rakyat Merantau: Hidup Pahit Tentang Indonesia yang Katanya Makmur

Gambar
Indonesia dikenal sebagai negeri yang katanya makmur. Tanahnya subur. Lautnya luas. Gunungnya kaya.  Tapi rakyatnya akrab dengan kata “pas-pasan”.  Kekayaan alam seperti etalase toko. Bisa dilihat. Sulit dibeli. Lapangan kerja katanya ada. Tapi sering hanya di spanduk. Di pidato. Di baliho besar.  Di dunia nyata, lowongannya sempit. Antrenya panjang. Upahnya pendek.  Maka banyak rakyat memilih jalan jauh. Ke negeri orang. Mengirim rindu bersama devisa. Ironisnya, mereka masih diminta cinta tanah air. Diminta setia. Diminta bangga.  Padahal perut tidak bisa hidup dari slogan. Cinta tanah air itu soal rasa aman dan sejahtera. Bukan hafalan.  Jadi jangan heran, jika yang paling patriotik justru yang terpaksa pergi. [kay]

Lapangan Kerja Lebih Dibutuhkan Rakyat daripada MBG Makan Gratis

Gambar
Masyarakat Indonesia sebenarnya lebih menyukai program lapangan kerja ketimbang MBG.  Bukan karena menolak makan gratis. Tapi karena mereka lebih suka bekerja daripada disuapi.  Lapangan kerja memberi penghasilan. MBG hanya memberi piring. Yang satu berkelanjutan. Yang lain cepat habis. Masyarakat sebenarnya tidak minta disuapi. Mereka hanya ingin diberi kesempatan.  Dengan bekerja, ada penghasilan. Dengan penghasilan, ada pilihan.  Dan dengan pilihan, keluarga bisa makan bergizi tanpa harus antre program.  Lucunya lagi, rakyat dianggap tak paham gizi. Seolah tanpa program, mereka lupa cara memasak sayur.  Padahal sejak dulu, mereka tahu apa yang sehat untuk keluarganya.  Yang kurang bukan pengetahuan. Tapi akses kerja.  Karena gizi terbaik tetap lahir dari keringat sendiri. [kay]

MBG Pasongsongan: Antara Makan Gratis, Cemas Orang Tua, dan Usulan UMB

Gambar
MBG akhirnya datang juga. Pekan ini. Hampir merata. Masuk ke sekolah-sekolah di Kecamatan Pasongsongan-Sumenep. Anak-anak menyambutnya dengan sorak kecil dan perut kosong.  Bagi mereka, gratis itu selalu terdengar lezat. Soal gizi, nanti belakangan. Yang penting bisa makan bareng teman. Di luar pagar sekolah, cerita jadi lain. Sebagian orang tua gelisah. Ada kabar keracunan di daerah lain.  Pesan berantai lebih cepat dari sendok makan. MBG pun berubah wujud.  Dari Makan Bergizi Gratis jadi Makan Bikin Galau. Anak disuruh hati-hati, tapi tetap lapar. Lalu muncul ide brilian. Mengapa tidak uang saja? Lebih fleksibel, katanya.  Anak bisa beli sesuai selera. Usulan ini jujur dan kreatif.  Tapi kalau begitu, namanya jangan MBG. Ganti saja UMB (Uang Makan Bergizi).  Soal bergizinya? Itu urusan nanti. Hehehe. [kay]

MBG, Makan Berani Setelah Giliran Teman Duluan

Gambar
Berita baik pekan ini bersama kotak makan bernama MBG.  Ia tiba di sekolah-sekolah Kecamatan Pasongsongan Sumenep dengan wajah rapi dan janji gizi.  Tapi, tidak semua siswa menyambutnya dengan senyum.  Sebagian justru menatapnya curiga, teringat pesan orang tua di rumah: jangan dimakan dulu, takut keracunan.  MBG pun mendadak berubah dari menu makan siang jadi bahan uji nyali. Di kelas, drama kecil pun terjadi. Ada siswa yang memilih menunggu, menahan lapar sambil mengamati.  Temannya membuka kotak lebih dulu, lalu makan dengan tenang.  Lima menit berlalu. Sepuluh menit berlalu. Tak ada pingsan, tak ada teriakan, apalagi sirene. Hanya sendawa kecil dan wajah kenyang. Baru setelah itu, rasa takut berubah jadi rasa lapar. MBG akhirnya disantap, tanpa upacara.  Kisah ini sederhana. Di negeri ini, makanan sering harus lulus “uji teman sebangku”.  Kepercayaan publik, rupanya, masih perlu bumbu utama: contoh nyata, bukan sekadar sosialisasi . [kay]

NU Terlalu Sibuk ke Atas, Warga Ribut ke Bawah: Retaknya Harmoni Organisasi

Gambar
NU adalah organisasi besar. Begitu besar sampai pengurus di atas dan warga di bawah tampak hidup di dua alam berbeda. Yang satu di ruang rapat ber-AC, yang lain di lapangan penuh perdebatan. Keduanya sama-sama NU, tapi rasanya seperti sedang tidak satu grup WhatsApp. Para pengurus terlihat sibuk. Sibuk rapat, sibuk manuver, sibuk lobi. Saking sibuknya, suara warga kecil terdengar seperti notifikasi yang disenyapkan. Sementara itu, di bawah, warga NU ribut soal nasab. Debat panas. Persaudaraan memanas. Tapi tenang saja, di atas semuanya tetap adem. Saat warga saling bersitegang, para elit tampak khusyuk jaga kepentingan pribadi. Katanya demi organisasi. Meski anehnya, yang kenyang selalu itu-itu saja. Rakyat diminta sabar. Diminta dewasa. Diminta jangan ribut. Padahal yang paling jarang turun tangan justru para pemilik mikrofon. NU tidak akan runtuh. Terlalu besar untuk itu. Tapi kepercayaan bisa bocor pelan-pelan. Kalau pemimpin terus sibuk mengurus perut sendiri, sementa...

Kekompakan Luar Biasa: KKG Gugus 02 Pasongsongan Bahas Sekolah Ramah Anak di SDN Panaongan 3

Gambar
Sundari, S.Pd (kanan) SUMENEP – Pertemuan rutin Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus 02 Kecamatan Pasongsongan kembali digelar dengan penuh antusias. Kamis (5/2/2026). Kali ini giliran SDN Panaongan 3 jadi tuan rumah bagi para pendidik yang ingin memperdalam strategi pendidikan lewat tema menarik: “Merajut Inklusivitas: Membangun Sekolah Ramah Anak.” Ada hal yang berbeda dan membanggakan dalam rapat kali ini. Tingkat kehadiran peserta menunjukkan tren yang sangat positif. Hal ini turut diamini Sundari, S.Pd., guru PAI (Pendidikan Agama Islam) dari SDN Padangdangan 1. "Rapat KKG 02 kali ini terbilang sangat sukses. Hampir seluruh guru, kepala sekolah, hingga tenaga kependidikan hadir dengan kompak dan tepat waktu. Semangat kebersamaan seperti ini yang kita butuhkan untuk maju bersama," ungkap Sundari ketika dimintai komentarnya oleh awak media. Menurut perempuan dari dua orang anak ini menjelaskan, bahwa rapat kali ini bukan sekadar rutinitas, melainkan momentum pentin...

Sinergi Pendidik di Gugus 02 Pasongsongan: Wujudkan Sekolah Ramah Anak Melalui Inklusivitas

Gambar
Sariman, S.Pd (kiri). SUMENEP   – Semangat kolaborasi antar-pendidik kembali terlihat dalam pertemuan rutin Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus 02 Kecamatan Pasongsongan. Kamis (5/2/2026). Pertemuan bulan ini diselenggarakan di SDN Panaongan 3, dengan mengusung tema yang sangat relevan dengan dinamika pendidikan modern: “Merajut Inklusivitas: Membangun Sekolah Ramah Anak.” Tema ini dipilih untuk memperkuat pemahaman guru mengenai pentingnya menciptakan suasana sekolah yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan setiap anak, terlepas dari latar belakang maupun kondisi fisiknya. Hadir sebagai pemateri utama adalah Sariman, S.Pd., yang merupakan tenaga pendidik dari SDN Soddara 1. Dalam paparannya, beliau menekankan bahwa inklusivitas bukan sekadar menerima siswa berkebutuhan khusus, melainkan tentang bagaimana kurikulum dan pola pengajaran bisa beradaptasi dengan kebutuhan unik setiap individu. "Sekolah ramah anak dimulai dari hati seorang guru yang mampu melihat potensi ...

Pertemuan Rutin KKG Gugus 02 Pasongsongan Digelar di SDN Panaongan 3

Gambar
SUMENEP - Pertemuan rutin bulanan Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus 02 Kecamatan Pasongsongan berlangsung di SDN Panaongan 3. Kamis (5/2/2026).  Kegiatan ini dihadiri para guru dari sekolah-sekolah anggota gugus sebagai wadah koordinasi dan peningkatan profesionalisme pendidik. Agus Sugianto, S.Pd, selaku perwakilan tuan rumah, menyampaikan permohonan maaf atas molornya waktu pelaksanaan pertemuan.  Dalam undangan, kegiatan dijadwalkan mulai pukul 09.00 WIB, tapi pelaksanaannya sedikit tertunda. “Ini bukan unsur kesengajaan, tapi karena adanya pembagian MBG (Makanan Bergizi Gratis) kepada para siswa dan guru,” ungkap Agus Sugianto.  Ia menambahkan, pembagian MBG di SDN Panaongan 3 tersebut merupakan yang pertama kalinya dilaksanakan, sehingga membutuhkan penyesuaian dalam pelaksanaannya . [kay]

Pengawas Bina Tekankan Integritas Moral Guru pada Pertemuan KKG Gugus 02 Pasongsongan

Gambar
Abu Sufyan (berdiri). ​ SUMENEP – Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus 02 Kecamatan Pasongsongan kembali menggelar pertemuan rutin bulanan yang bertempat di SDN Panaongan 3. Kamis (5/2/2026).  Kegiatan ini jadi wadah koordinasi sekaligus peningkatan kompetensi bagi para pendidik di lingkungan gugus tersebut. ​Acara ini dihadiri langsung Pengawas Bina SD Kecamatan Pasongsongan, Abu Supyan, M.Pd.  Dalam kesempatan tersebut, ia memberikan pengarahan terkait profesionalisme dan etika profesi guru sebagai teladan di masyarakat. ​Dalam amanat singkatnya, Abu Supyan memberikan peringatan keras bagi seluruh tenaga pendidik untuk senantiasa menjaga martabat diri dan institusi.  Ia menekankan agar para guru menjauhi segala bentuk tindakan yang melanggar norma, termasuk perselingkuhan. ​"Sebagai pendidik, kita adalah figur yang digugu dan ditiru. Menjaga integritas moral, termasuk menghindari perselingkuhan, adalah harga mati demi marwah pendidikan dan masa depan anak didik kita," tegas ...

Sinergi Warga dan Tokoh Masyarakat, Plesterisasi Jalan Buntu di Sempong Barat Rampung

Gambar
SUMENEP – Semangat gotong royong dan kepedulian tokoh masyarakat berhasil mengubah wajah infrastruktur di Dusun Sempong Barat, Desa Pasongsongan. Proyek plesterisasi jalan kampung sepanjang 50 meter yang sebelumnya rusak, kini telah rampung dikerjakan dan siap digunakan warga. Jumat (6/2/2026). Perbaikan jalan ini bermula dari inisiatif Adam Biyono Gafur. Meski statusnya adalah jalan buntu, Adam tetap bergerak menggalang dana swadaya dari masyarakat sekitar demi kenyamanan mobilitas sehari-hari. Langkah swadaya warga ini rupanya memantik simpati dari berbagai pihak. Kepala Desa Pasongsongan turun tangan langsung memberikan dukungan dana untuk memastikan pengerjaan jalan tersebut berjalan lancar. "Kami sangat mendukung langkah swadaya masyarakat seperti ini. Ini adalah bentuk nyata kepedulian warga terhadap pembangunan desa, dan tentu pemerintah desa akan selalu hadir untuk menyokongnya," ujar Kades Pasongsongan, Ahmad Saleh Harianto. Senada dengan hal tersebut,...

Dukung Literasi Digital, Owner Toko Ungu Pasongsongan Danai Plesterisasi Jalan Sempong Barat

Gambar
Owner Toko Ungu Pasongsongan. SUMENEP – Akses jalan kampung di Dusun Sempong Barat, Desa Pasongsongan, kini tampil lebih rapi dan nyaman. Proyek plesterisasi jalan sepanjang 50 meter tersebut dinyatakan rampung berkat kolaborasi apik antara inisiatif warga dan dukungan sektor swasta. Jumat (6/2/2026). Jalan pelosok yang kini sudah mulus tersebut salah satunya mendapatkan suntikan dana segar dari Zainollah, pemilik (owner) Toko Ungu Pasongsongan. Zainollah mengungkapkan bahwa keputusannya membantu perbaikan jalan tersebut bukan tanpa alasan. Ia melihat Dusun Sempong Barat memiliki potensi strategis karena jadi markas bagi media digital lokal. "Saya punya perhatian khusus terhadap jalan kampung tersebut karena di sana terdapat operasional website lokal www.apoymadura.com ," ujar Zainollah. Menurutnya, keberadaan media lokal tersebut seringkali menarik kunjungan dari berbagai pihak luar yang ingin bersilaturahmi atau melakukan koordinasi terkait informasi di wilayah...