Sungai Darah Naluri (35)


Novel: Yant Kaiy

Tak mungkin aku berpikir lebih dari dua kali karena hal yang semacam ini justru mengganggu aliran sungai kebulatan hati, kalau sudah demikian yang pasti akan terurai benang-benang keresahan membuncah, padahal aku harus menyatu dengan berbagai tugas yang sudah menanti. Aku butuh tempat berlindung dalam mengembangkan diri. Namun masih dapat kulihat peluang yang agak lebih luas dari daun kelor. Kubersyukur dapat dipertemukan dengan kenyataan yang tidak mungkin kutolak kehadirannya walaupun aku harus mengorbankan sesuatu teramat berharga yang terdapat pada diri ini. Oh...

Berbagai cara dan etika dari tugas yang harus kuhadapi sudah siap menghadang liku perjuangan yang sesungguhnya.

Bila pagi menjelang. Udara segar memberiku spirit dalam menyelesaikan berbagai halaman tugas kantor swasta, semuanya dipasrahkan terhadapku. Sebagai bawahan yang yunior masih dalam berkembang dalam karier, dan sesuatunya masih berjalan dengan dibantu oleh arah mata angin yang membawaku terus diantara beraneka cita mengukir usia. Kadang aku menemukan kesulitan dalam menyelesaikan perjalanan waktu dan seringkali menimbulkan kejutan membuat sebagian sahabat seprofesi mengacungkan rasa hormat kendati tidak terlalu sangat. Aku segera mencium harum dari hasil yang kupersembahkan terhadap pimpinan dan dari sinilah dapat ditarik benang persaingan, bukan hal yang tidak wajar, sudah banyak korban yang berjatuhan, tumbang sebelum masanya akibat dari kewajaran yang berujung kekurang-ajaran. Alasannya tidak lain adalah tradisi yang senantiasa mencemooh tradisi masa lalu yang kurang sesuai diterapkan dalam praktek sehari-hari.

Aku pun tak ingin terpaku dalam bersaing dengan ekstra waspada takut nantinya tergelincir. Dalam waktu yang relatif singkat, banyak kepala yang membuat bergeleng kagum terhadap suksesku. Pujian itu tak membuatku terbang, melanglang buana sedemikian rupa. Lupa akan asal. Lantaran aku sudah kebal akan caci-maki mereka di luar sana. (Bersambung)





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Terbuka untuk Haji Her (H Khairul Umam): Ajakan untuk Membangun Kesejahteraan Bersama

Soa-soal Bahasa Madura Kelas III

Soal-soal Bahasa Madura Kelas IV SD

Harmoni Indah Lusyana Jelita & Umar Dhany Kawesa dalam "Untung Masih Ada Ramadhan"

Madu Herbal Banyu Urip: Terapi Alami untuk Kesehatan Reproduksi dan Pemulihan Tubuh

Membangun Mindset Masyarakat Indonesia tentang Keampuhan Ramuan Tradisional

Samsul Arifin: Figur Kuat yang Siap Memajukan Desa Pamolokan

Tantangan dalam Membangun Kepercayaan Masyarakat terhadap Ramuan Tradisional

Berbagi Pesan Inspiratif Kepala SDN Padangdangan 2 di Acara Buka Puasa Bersama

Soal dan Kunci Jawaban Bahasa Madura PAS Kelas IV SD