Air Mataku
Pentigraf: Yant Kaiy
Tak
ada niat secuil pun untuk meyakitinya. Karena dulu aku pernah merasakan betapa
pedihnya orang teraniaya. Tidak mudah menghapus jejak pengkhianatan itu. Aku
tertatih berjuang seorang diri, memprogram ulang konsep pendamping hidup sesuai
perasaan. Mungkin dari sebagian orang menganggap hal ini sudah lumrah. Tapi
bagiku tidak. Karena aku tulus mencintainya.
Akhirnya aku terdampar di pangkuan gadis biasa-biasa saja. Mungkin boleh dikatakan tergolong miskin untuk ukuran di lingkungannya. Kualitas keimanannya lumayan. Taat beribadah. Meski demikian, ia tidak pernah mengguruiku dalam soal berbakti terhadap Tuhan. Di sisi lain, ia tak pernah mendikteku.
Walau jarang bertemu karena aktivitasku super sibuk, kami selalu berkomunikasi via sosial media. Menginjak masa pertunangan, ia raib bersama lelaki lain.[]
Pasongsongan, 3/1/2022
Komentar
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan sopan agar kita bisa memberikan pengalaman yang baik untuk pengunjung. Terima kasih.