Cerpen ANGIN CINTA JANUARI
Karya: Yant Kaiy
Siska
membenci Debur karena ada sebuah persaingan diantara mereka berdua di
kantornya. Siska kalah mendapatkan posisi yang diidam-idamkan. Yaitu sebagai
kepala devisi strategi marketing. Padahal Siska lebih senior di perusahaan ketimbang
Debur. Bagi teman-teman Siska, wajar jika akhirnya dia melampiaskan
kekecewaannya terhadap cowok bertampang artis Korea tersebut.
Pada
mulanya Siska kenal baik sama Debur. Meski tidak akrab. Sebab karyawan di perusahaan
minuman kesehatan itu berjumlah ratusan orang. Sementara Siska dan Debur tidak
satu devisi.
Suatu
ketika Siska menggelar acara hari ulang tahun di rumahnya. Dia hanya mengundang
rekan kerja satu devisi. Demi mengetahui Siska berulang tahun, Debur datang
membawa bingkisan. Semua hadirin kaget karena mereka tahu kalau hubungan Siska
dan Debur suasananya lagi memanas.
Sebagai
tamu tak diundang, Debur mengucapkan: “Semoga panjang umur dan dipermudah segala
urusan.”
Siska
bergeming. Sikapnya serba salah ketika menerima kado Debur. Setelah menyerahkan
kado, Debur berbaur dengan para undangan karena banyak diantara mereka yang ia
kenal.
Hari-hari
berikutnya, Siska tetap tidak mengendorkan kebenciannya terhadap Debur. Namun
suatu ketika Debur menjumpai mobil Siska terjebak banjir. Beruntung Debur
pulang kantor belakangan. Debur segera menderek sedan Siska dari kedalaman air.
Debur langsung menarik sedan siska ke bengkel.
Sementara
hujan deras mengguyur Debur tatkala melepaskan tali pengait ke mobil Siska.
“Ayo
naik. Aku antar pulang !” ajak Debur enteng. “Tenang. Kau aman bersamaku.”
Siska
tak berkata apa-apa naik ke mobil Debur. Sepanjang perjalanan keduanya tidak
banyak bicara. Sampai di rumah Siska, gadis berkulit putih mulus itu
mengucapkan terima kasih.
“Kok
gak diajak masuk dulu temanmu, Sis?” tanya ibunya demi melihat Siska pulang
tidak dengan mobilnya.
“Ia
keburu mau pulang, Ma.”
“Paling
tidak ada basa-basi diajak masuk. Lain kali jangan begitu. Apalagi tadi mama
perhatikan ia basah kuyup,” saran ibu Siska bernada sedikit kecewa terhadap
sikap anaknya.
Di depan
kaca seorang diri, Siska memperhatikan wajahnya. Kalimat ibunya dicerna dengan
pikiran bijak olehnya. Benar juga kata-kata itu, gumamnya seorang diri.
Bukankah selama ini Debur tidak punya salah apa-apa.
Diam-diam
kebencian Siska luruh. Ada getar aneh menyusup ke relung jiwanya.[]
Pasongsongan, 3/1/2023
Komentar
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan sopan agar kita bisa memberikan pengalaman yang baik untuk pengunjung. Terima kasih.