Surat Terbuka untuk Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah: Nasib Penjaga Sekolah Honorer di Sumenep
Rekrutmen guru PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) untuk Sekolah Dasar Negeri hampir tiap tahun ada.
Tapi di balik gemuruh aktivitas pendidikan di Kota Keris Sumenep, terdapat sekelompok pekerja yang luput dari perhatian, yakni penjaga sekolah honorer.
Mereka menjalankan tugas kompleks - mulai dari menjaga keamanan, membersihkan lingkungan sekolah, hingga membantu administrasi - tapi hidup dengan upah kecil dan status kerja tidak pasti.
Ironisnya, dalam beberapa tahun terakhir, tidak ada rekrutmen penjaga sekolah, baik sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) maupun Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Seberapa pentingkah peran mereka sehingga diabaikan begitu saja?
Upah Kecil dan Kehidupan Terkatung-Katung
Berdasarkan laporan dari seorang penjaga sekolah di salah satu SDN di Kecamatan Pasongsongan, penjaga sekolah honorer itu menerima upah Rp 250.000 per bulan.
Jumlah ini jelas jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, apalagi bagi mereka yang telah berkeluarga.
Seperti banyak penjaga sekolah lainnya, terpaksa mereka mencari pekerjaan sampingan, misalnya bertani untuk bertahan hidup.
Tugas Kompleks Tanpa Pengakuan Layak
Penjaga sekolah bukan sekadar "satpam" atau "tukang bersih-bersih". Mereka memiliki Tupoksi (Tugas Pokok dan Fungsi) yang mencakup:
1. Menjaga keamanan sekolah dari ancaman vandalisme atau pencurian.
2. Memelihara kebersihan dan kerapian lingkungan sekolah, termasuk merawat taman dan fasilitas umum.
3. Membantu administrasi sekolah, seperti pendataan inventaris dan penerimaan tamu.
4. Mendukung kegiatan ekstrakurikuler, seperti pramuka.
5. Bahkan ketika ada rapat, penjaga sekolah honorer selalu membantu mempersiapkan segala sesuatunya.
Kendati peran mereka vital, tidak ada jalur kepastian karir.
Penjaga sekolah honorer tidak memiliki skema pengangkatan yang jelas.
Mereka Layak Diperhatikan
Penjaga sekolah adalah ujung tombak keamanan dan kenyamanan lingkungan pendidikan.
Tanpa mereka, sekolah tidak akan berfungsi optimal.
Sudah saatnya pemerintah tidak lagi memandang sebelah mata nasib mereka.
Jika guru dan kepala sekolah diperjuangkan, mengapa penjaga sekolah tidak?
Mereka mungkin tidak mengajar di depan kelas, tapi pengabdian mereka sama mulianya. [Surya]
Komentar
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan sopan agar kita bisa memberikan pengalaman yang baik untuk pengunjung. Terima kasih.